BLOG

Academic-Profession

Agenda strategis HIPMI Papua ke depan adalah bangun “ekonomi damai”, mitra Hexahelix.

Ekonomi tidak bisa lagi dibaca hanya sbg urusan bisnis. Mesti dipahami sebagai pintu masuk untuk meredam ketimpangan sosial, perkuat legitimasi politik pembangunan, dan hindari risiko keamanan

Bisnis --> ciptakan kerja, perkuat OAP, hormati adat, eliminasi kemiskinan, dan menjadi jembatan antara pemerintah, dunia usaha, akademisi, adat, perempuan dan kaum muda, agama, dan aparat keamanan.

Perlu menjadi mesin pencipta kelas menengah muda Papua.

Tampil sebagai mitra kritis pemerintah, bukan sekadar penerima proyek

Perlu dukung pendekatan keamanan berbasis kesejahteraan: buka lapangan kerja, libatkan tokoh adat–agama–pemuda, hindari investasi yang rampas tanah adat, serta dorong dialog sosial sebelum proyek masuk

Pidato Menteri Lingkungan Hidup yang baru dilantik [JUMHUR HIDAYAT]. Melawan OligarKi selamatkan BUMI. Mestinya Papua perlu dikedepankan. Mari simak baik tentang Enviromental Ethics [Rocky Gerung]

Kepala Desa ini HEBAT, realistis bangun desa ber-sama rakyatnya dengan hati. Kembangkan potensi desanya di bid. pariwisata. Tatakelola APBDesa (pendapatan asli desa), tanpa korupsi

Hebatnya lagi Informan cantik ini mampu suarakan dengan menyakinkan sekali.

Ternyata kebenaran itu memang selalu subjektif. Tak perlu memaksa kan untuk sependepat, tetapi perlu sekali menghargai pendapat lainnya.

RE POST

PELAJARAN DARI AUSSIE: FENOMENA KEHIDUPAN ORANG ABORIGIN

OLEH: 

ASAFKU[1])

Bersama mahasiswa Program Doktor Ilmu Sosial Pascasarjana Uncen

mengikuti Perjalanan ke Darwin, Nothern Teritory, Australia,

dalam rangka reading course di Charles Darwin University,

field exposure di Nungalinya College dan Yolnu Radio,

Sesuai kurikulum yang telah ditetapkan, setelah menyelesaikan tahapan kuliah tatap muka selama 2 semester, mahasiswa Program Doktor Ilmu Sosial Pascasarjana Universitas Cenderawasih dapat menyiapkan diri untuk menyusun proposal penelitian disertasi dan mengikuti ujian kualifikasi sebagai kandidat. Untuk kepentingan tersebut, diperlukan adanya tambahan wawasan akademik melalui berbagai kegiatan, seperti kajian kepustakaan dan pengenalan lapangan. Diputuskan untuk melakukan kunjungan akademis ke Kota Darwin, Nothern Teritory, Australia. Pemilihan Kota Darwin sebagai sasaran kunjungan dipandang relevan, didasarkan pada fakta bahwa di Kota Darwin terdapat obyek studi dan pelajaran lapangan sebagai pembanding yang berkoherensi dan berkorespondensi dengan bidang keilmuan Administrasi Publik, Ilmu Pemerintahan, Sosiologi, dan Antropologi. Secara akademik, dapat dikontribusi oleh Charles Darwin University, dan secara empiris didukung oleh berbagai institusi (lembaga gereja, lembaga adat, lembaga sosial masyarakat, dan lembaga swasta) yang bekerja membantu masyarakat asli, serta memediasi otoritas Pemerintah Australia dan kepentingan masyarakat asli.

Sesungguhnya, kegiatan ini bermakna ganda, Pertama, ada pelajaran penting yang dapat dipetik oleh mahasiswa dalam rangka pengayaan referensi keilmuannya. Dengan memanfaatkan momentum ini, mahasiswa memiliki kesiapan lebih prima dalam menyusun kerangka teori untuk proposal riset disertasi yang baik, serta menyiapkan diri menghadapi ujian kualifikasi doktor. Kedua, adanya penjajagan peluang pengembangan kerjasama institutional antar universitas dan antar pemerintah dalam bidang pendidikan dan riset untuk pengembangan ilmu pengetahuan dan aplikasi kebijakan publik dalam penanganan masalah-masalah pemerintahan dan sosial kemasyarakatan.

Fenomena Antropologis

Sangat menarik perhatian, cerita tentang esistensi Orang Aborigin yang ditelusuri dari referensi akademik di Perpustakaan Charles Darwin University, antara lain : John and Johan Kamminga (1999); Bain Attwood and Andrew Markus (1999), Koch Bowern, Claire dan Harold Koch (2004), Malcolm Prentis (2011), Sonja Peschek (2012), media internet (E-Book), serta berbagai lembaga non pemerintah. Betapa tidak, sebagai mahluk hidup yang memiliki derajat yang sama sebagai manusia di muka bumi yang diakui berdasarkan prinsip-prinsip demokrasi dan HAM. Orang Aborigin merupakan penduduk asli Benua Australia yang memiliki lebih dari 250 bahasa dengan dialek berbeda, tetapi sangat berpotensi untuk terancam punah. Di wilayah Northern Teritory, Orang Aborigin, hidup dengan aturan dan ritual adat yang ketat. Mereka hidup berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain dalam wilayah adatnya yang kian terbatas.

Berdasarkan penuturan Dr. Helen Richmond, Director of Nungalinya College - Suatu lembaga yang diselenggarakan oleh Gereja (United Church) untuk program pendidikan dan keterampilan dan kepemimpinan berbasis teologia bagi penduduk asli di Australia dan memberi pelayanan untuk penguatan masyarakat lokal dan kelangsungan budayanya - ternyata, Orang Aborigin sedang mengalami degradasi kemanusiaan. Semakin terdesak oleh kepentingan kekuasaan yang menyebabkan mereka terangkat dari akar-akar budayanya. Populasi Orang Aborigin Tahun 2012 hanya mencapai sekitar 470 ribu dari 22 juta jiwa penduduk Australia atau 0.02%. Angka tersebut merosot tajam dari perkiraan jumlah populasi mereka Tahun 1991 (351.000 orang), Tahun 2006 (517.000 orang), dengan kenaikan rata-rata 2,6% per tahun. Sementara angka yang tercatat pada Tahun 1788 mencapai 1 juta jiwa ketika dimulai kebijakan emigrasi Pemerintah Inggris ke Australia. Kemorosotan jumlah populasi tersebut selain disebabkan oleh faktor kesehatan, fakta sejarah menjelaskan bahwa sejak awal abad 19 seringkali terjadi pembantaian Orang Aborigin dan banyak tanah ulayat mereka yang dirampas orang kulit putih.

Pada tahun 1905, Anglican Church dan United Church memulai misi pekabaran injil sekaligus melindungi Orang Aborigin dari pembantaian yang dilakukan orang-orang kulit putih. Gereja, kemudian mengumpulkan masyarakat Aborigin yang terdiri dari berbagai suku dan bahasa dalam satu kelompok masyarakat dimulai di Ropa River, dan dengan memperkenalkan bahasa Krio sebagai bahasa pemersatu bagi semua Orang Aborigin. Dalam perjalanan selanjutnya, pada 1994 gereja Katolik juga bergabung dalam Nungalinya College dalam rangka pengembangan masyarakat asli.

Sebenarnya, kehadiran Mabo sebagai tokoh Aborigin, cukup memberi harapan dalam memperjuangkan perbaikan hak-hak hidup Orang Aborigin. Salah satu hasil perjuangannya yang dapat dinikmati hingga saat ini adalah munculnya kesadaran baru dari pemerintah Australia yang mulai memberikan pengakuan terhadap tanah leluhur Orang Aborigin, dituangkan dalam bentuk regulasi, walaupun dalam implementasinya masih diperhadapkan pada berbagai kondisi problematik yang kompleks. Salah satu hasil perjuangannya hingga saat ini adalah adanya kompensasi Pemerintah Australia terhadap penduduk Aborigin melalui Program “fresh money” setiap 2 minggu senilai AUD 400 (senilai kira-kira Rp. 4,315,600,000, Kurs AUD 20 Agustus 2013 : AUD 1= Rp. 10,789,000). Itu berarti lebih besar dari gaji seorang Guru Besar di Indonesia. Hanya saja belum diikuti dengan program pemberdayaan secara maksimal, sehingga tidak cukup membantu eksistensi Orang Aborigin. Dana subsidi tersebut justru tidak termanfaatkan untuk meningkatkan kapasitas mereka, sehingga dinilai gagal.

Di Kota Darwin, Orang Aborigin adalah penduduk yang paling kurang sejahtera. Banyak di antara mereka yang menjadi gelandangan dan pengemis di emper-emper toko dan menjadi penghuni tetap di taman-taman. Pihak Gereja dan LSM mencoba menjalankan program untuk melahirkan karya-karya sosial di bidang kesehatan dan pendidikan bagi Orang Aborigin. Dengan kerja keras, mereka mencoba menanggulangi kondisi kesehatan anak di bawah usia 5 tahun yang memiliki tingkat kematian yang tinggi, di mana 2 kali lebih banyak yang meninggal pada usia di bawah 5 tahun dibanding anak-anak lain di Australia. Kaum lelaki Aborigin meninggal 11 tahun lebih muda dibanding pria dari kelompok etnis lain. Faktor penyebabnya adalah pola hidup yang tidak sehat (termasuk pola makan dan minum). Banyak Orang Aborigin yang meninggal karena mengkonsumsi minuman cocacola dan sejenisnya secara berlebihan. Sementara itu, dari segi pendidikan, kebanyakan anak-anak di kampung tidak dapat menikmati program pendidikan karena hambatan pola hidup, rendahnya kesadaran orang tua, minimnya intervensi pemerintah.

Determinan Sosiologis

Masih tampak nyata adanya pembedaan perlakuan antara Orang Aborigin dan penduduk lainnya. Setidaknya, dapat ditelusuri fenomena itu di pusat perkotaan di Darwin. Orang Aborigin di perkotaan Darwin, masuk kategori tersisihkan. Sangat jarang dijumpai komunikasi intensif dan efektif antara penduduk lainnya dengan mereka, kecuali hanya untuk kepentingan riset sebagai sumber data primer. Ada kecenderungan terjadi pembiaran yang kian meluas untuk menyisihkan mereka. Hidup mengelompok (keluarga, kolega) di taman-taman kota, sementara lainnya berkeliaran sorang diri di perkotaan untuk mengemis adalah fenomena keseharian yang dapat dengan mudah dijumpai.

Di lain pihak, Orang-orang Aborigin yang terbina oleh berbagai lembaga gereja dan LSM jauh lebih baik. Untuk bersosialisasi, mereka membutuhkan penguasaan setidaknya 4 bahasa utama, yaitu : bahasa ibu sebagai bahasa bawaan sejak lahir, bahasa bapak sebagai bahasa dari hasil perkawinan, bahasa bersama diantara semua suku yang ada, dan bahasa Inggeris. Hal ini menjadi focus perhatian dari para pemerhati dan pembela mereka yang menyelenggarakan berbagai program pendidikan untuk anak-anak dan orang tua (antara lain : diselenggarakan oleh Nungalunya College dan Yolnu Radio).

Kebijakan Pemerintah

Rangkuman diskusi yang diselenggarakan di Ruang Meeting Konsulat RI di Darwin, difasilitasi oleh Valarie Sands, Ph.D., selaku Director of Centre for Study of Privatization and Public Acountability (Pusat kajian yang berada di bawah pengawasan Monash Univeristy, Victoria, Australia, yang memusatkan perhatian pada perihal pertanggungjawaban publik oleh pemerintah dan kebijakan penyerahan sebagian otoritas pemerintah kepada swasta dan masyarakat), mendeskripsikan point-point penting kebijakan Pemerintah Australia mengenai pelayanan public dan eksistensi Orang Aborigin.

Dalam masa yang cukup panjang Pemerintah Australia kurang memberikan perhatian dan pengakuan terhadap eksistensi penduduk asli. Didukung oleh menguatnya pandangan tidak resmi dari para tokoh dan pejabat di pemerintahan untuk bekerja demi Ratu dan mengabaikan perhatian terhadap penduduk asli. Kebijakan dan program asimilasi penduduk yang mulai dijalankan dalam beberapa periode pemerintahan hingga saat ini, dianggap telah gagal, karena faktanya, Orang Aborigin semakin terkikis dari identitasnya, kehilangan bahasa dan budayanya, dan terangkat dari tanah kelahirannya - hak mereka atas Tanah Adat terampas. Bagaimanapun, Orang Aborigin terkondisikan untuk memiliki hanya sedikit akses di berbagai lapangan kehidupan.

Fenomena kontras ditunjukkan oleh Pemerintahan Baru Australia saat ini. Mulai muncul kesadaran baru walau masih belum optimal, karena diperhadapkan pada masalah yang sangat kompleks. Di bawah kepemimpinan Pemerintahan Perdana Menteri Tony Abbott, Pemerintah Australia memberi akses kepada penduduk asli untuk berkiprah dalam pemerintahan, dan mulai mendorong pelibatan mereka dalam berbagai bidang dengan sistem rekruitmen terbuka, dibandingkan sebelumnya dengan sistem tertutup - hanya peranakan yang dapat mengakses pekerjaan formal. Kebijakan Pemerintah Australia di bawah kepemimpinan baru, telah membentuk Dewan Penasehat Suku Aborigin untuk mengatasi sistem kesejahteraan (termasuk pengembangan ekonomi, pendidikan, kesehatan, dan bahkan di bidang olahraga) serta masalah lapangan kerja. Hal ini, berimplikasi pada terbukanya peluang yang luas bagi para pekerja dan pemerhati sosial Orang Aborigin untuk mengembangkan kiprahnya membantu perbaikan sistem kehidupan modern Orang Aborigin. Kebijakan tersebut didukung pula oleh Majelis Rendah Parlemen Australia yang telah meloloskan RUU yang mengakui suku Aborigin. Bahkan, ada pengakuan resmi terhadap seorang warga Aborigin, Adam Giles yang menorehkan sejarah baru atas kemampuannya mengambil alih kepemimpinan di wilayah Northern Territory, setelah memenangi pemilihan internal partai setelah mendapat 11 suara dari 16 anggota parlemen dari Country Liberal Party (CLP). Khusus di Carles Darwin University, telah dipekerjakan Orang Aborigin dalam sebagai Indigenous support staff, seperti : Indigenous Academic (Kathy Arbon, Betty Ah Kit, Ben Jones), dan Coordinator Indigenous Tutorial Assistance Scheme (Tracy Sariago).

Akhirnya….,
Dari kunjungan field exposure ini, mahasiswa Program Doktor Ilmu Sosial Pascasarjana Universitas Cenderawasih, dapat dengan mudah melakukan penelusuran referensi ilmu pengetahuan dengan akses melacak, membaca, dan mencatat referensi tambahan yang dibutuhkan dari perpustakaan Charles Darwin University. Dengan demikian, mahasiswa dapat memperoleh tambahan ilmu pengetahuan dalam rangka pengayaan referensi rancangan penelitian disertasi, walaupun masih sangat terbatas. Pengetahuan praktis dari pengalaman berbagai lembaga sosial dan gereja mengenai penerapan kebijakan dan pelayanan publik di bidang sosial-politik, pemerintahan, ekonomi, dan budaya khususnya kepada Orang Aborigin, dapat pula digunakan oleh mahasiswa sebagai pembanding kajian empiris.

Dengan memperhatikan deskripsi kondisi di atas, kita dapat menarik simpul-simpul bahwa meningkatkan derajat kehidupannya dan mengembalikan hak-hak adatnya, Orang Aborigin masih harus berjuang sendiri dan/atau membutuhkan perhatian dari para pekerja di bidang kemanusiaan. Mereka sebagai minoritas di tanahnya sendiri, tidak cukup kuat berdiri di atas kakinya sendiri untuk menyuarakan kebahagiaan atas nama demokrasi. Sistem demokrasi yang menjadi landasan pijak bernegara dan bermasyarakat, tidak secara otomatis memberi garansi terhadap pelestarian dan kesinambungan nyawa orang-orang yang dilahirkan dan hidup dalam kelompok minoritas. Pengabaian terhadap karakter antropologis dan dinamika sosiologis, sangat ditentukan oleh proses kebijakan publik oleh pemegang otoritas.

Dari pelajaran ini, hendaknya kita semua dapat berkaca pada cermin kemanusiaan bahwa suatu kebijakan apapun itu, tidak dapat melanggar prinsip dasar yang menjadi hak-hak manusia. Siapapun Dia !    

                                                                                                                       -***-

[1]) Dikontribusi oleh ASAFKU [Akbar Silo, Agustinus Fatem, Nomensen Mambraku]. Terbit di Harian Cenderawasih Pos, Oktober 2013. Direview dan direvisi Desember 2024.